Genetika Rasa Takut
mekanisme deteksi ancaman yang diwariskan lintas generasi
Pernahkah kita sedang berjalan santai di kebun, lalu tiba-tiba melompat mundur dengan jantung berdebar karena ujung mata kita menangkap sesuatu yang melingkar di tanah? Selama sekian detik, otak kita berteriak panik. Namun saat kita perhatikan lagi, ternyata itu cuma selang air hijau yang tergeletak sembarangan. Saya yakin kita semua pernah mengalami momen "korslet" semacam ini. Kita hidup di tengah kota modern. Sehari-hari berhadapan dengan laptop dan aspal. Namun, mengapa otak kita masih bertingkah seolah kita sedang berburu di sabana liar puluhan ribu tahun lalu? Ada sebuah sistem alarm kuno di dalam kepala kita. Dan anehnya, alarm ini sepertinya sudah diatur sejak kita belum dilahirkan.
Mari kita bedah sedikit fenomena kocak tapi menyebalkan ini. Secara psikologis, ini adalah kerja amygdala, bagian otak kita yang bertugas sebagai detektor ancaman. Amygdala menganut prinsip yang sangat pragmatis: lebih baik salah mengira selang air sebagai ular, daripada salah mengira ular berbisa sebagai selang air. Kesalahan pertama hanya membuat kita malu. Kesalahan kedua bisa membuat kita mati. Inilah warisan evolusi. Tapi mari kita melangkah lebih jauh, karena ada teka-teki yang jauh lebih besar di sini. Jika rasa takut adalah hasil dari pengalaman belajar, lalu bagaimana menjelaskan bayi monyet yang histeris saat pertama kali melihat gambar macan tutul padahal ia lahir di penangkaran? Atau, mengapa banyak dari kita memiliki fobia bawaan terhadap laba-laba atau ruang gelap, tanpa pernah punya pengalaman buruk dengan hal-hal tersebut? Apakah mungkin rasa takut itu bisa diturunkan, persis seperti warna mata atau bentuk hidung?
Untuk menjawabnya, saya ingin mengajak teman-teman melihat sebuah eksperimen sains yang luar biasa—sekaligus sedikit menyedihkan—pada tikus. Pada tahun 2013, sekelompok ilmuwan saraf melepaskan aroma cherry blossom (bunga sakura) ke dalam kandang tikus. Setiap kali aroma itu muncul, tikus-tikus tersebut diberi kejutan listrik ringan. Tentu saja, tikus-tikus ini belajar mengasosiasikan wangi sakura dengan rasa sakit. Mereka akan langsung gemetar ketakutan begitu mencium aroma itu, meskipun tidak ada setruman. Sampai di sini, ini hanya psikologi dasar. Tapi perhatikan baik-baik. Tikus-tikus ini kemudian memiliki anak. Anak-anak tikus ini tidak pernah disetrum. Mereka tidak pernah bertemu ilmuwan yang menyiksa orang tua mereka. Namun, saat para ilmuwan menyemprotkan aroma cherry blossom ke kandang mereka, tebak apa yang terjadi? Anak-anak tikus ini langsung panik dan gemetar ketakutan. Bahkan, cucu dari tikus pertama juga menunjukkan reaksi horor yang sama terhadap wangi bunga sakura. Bagaimana ingatan tentang bahaya bisa melompat melintasi generasi?
Inilah momen di mana biologi modern menemukan jawaban yang mengubah cara kita memandang diri kita sendiri. Jawabannya ada pada epigenetika. Secara harfiah, istilah ini berarti "di atas genetika". Selama ini kita diajarkan bahwa DNA adalah cetak biru tubuh yang kaku. Ternyata tidak. DNA kita lebih mirip sebuah buku harian. Pengalaman traumatis, kelaparan parah, atau rasa takut yang ekstrem tidak mengubah urutan huruf dalam DNA kita, tetapi mereka meninggalkan semacam "catatan pinggir" kimiawi. Proses ini disebut metilasi DNA. Zat kimia kecil menempel pada gen tertentu, berfungsi seperti saklar yang menyalakan atau mematikan gen tersebut. Pada kasus tikus tadi, saklar gen untuk mendeteksi aroma sakura dinyalakan sangat terang, dan "catatan pinggir" ini diwariskan ke sperma dan sel telur. Hal yang sama terjadi pada manusia. Leluhur kita bertahan hidup dari perang, wabah, dan kelaparan. Mereka mewariskan buku harian biologis itu kepada kita. Ketakutan irasional yang sering kita rasakan mungkin bukanlah kelemahan mental, melainkan mekanisme perlindungan yang diwariskan secara genetik agar kita tidak mengulangi kesalahan nenek moyang kita.
Fakta ini mungkin terdengar agak menakutkan, tapi buat saya pribadi, ini justru sangat melegakan. Menyadari bahwa trauma dan rasa takut bisa diwariskan membuat kita bisa lebih berempati pada diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Terkadang kecemasan yang tiba-tiba datang mencekik kita bukanlah milik kita sepenuhnya; itu adalah gema dari masa lalu. Namun, kabar baik dari sains epigenetika adalah sifatnya yang bisa dibalik (reversible). Jika trauma bisa mengubah ekspresi gen kita, maka lingkungan yang aman, terapi empati, dan kebiasaan berpikir yang sehat juga bisa mencabut "catatan pinggir" yang kelam tersebut. Kita memang membawa sejarah ketakutan para leluhur di dalam setiap sel tubuh kita. Tapi kita juga dibekali kesadaran. Kitalah generasi yang punya pilihan: kita bisa berterima kasih pada alarm kuno itu karena telah menjaga nenek moyang kita tetap hidup, lalu dengan lembut mematikannya, dan mulai menulis buku harian DNA yang baru, yang jauh lebih damai, untuk anak cucu kita kelak.